Matius12:40 - '3 hari 3 malam. '. Ini menyebabkan ada orang yang beranggapan bahwa Yesus mati pada hari Kamis, dan bahkan Rabu (karena Ia bangkit pada hari Minggu). Tetapi Mark 15:42 jelas menunjukkan bahwa Yesus mati pada hari Jum'at (Sabat = Sabtu; jadi 'hari menjelang Sabat' = Jum'at). Markus 15:42 - "Sementara itu hari mulai PemesananDVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu. Perbedaan sewaktu masih ulat dan setelah menjadi kupu-kupu : • Ulat merangkak, memakan daun, tampak rakus, dan bergerak lambat. anak, remaja, dewasa muda, usia produktif, tua, lalu mati. 1 Yesusmati karena dosa-dosa kita. Ia disalibkan, mati dan dikuburkan, tetapi pada hari yang ketiga, Ia dibangkitkan. Setelah bangkit, selama 40 hari Ia menampakkan diri ke lebih dari 500 murid-Nya untuk membuktikan Dia hidup. Setelah berpesan terakhir, dengan disaksikan murid-murid-Nya, Tuhan Yesus terangkat ke surga. SebuahRenungan Tentang Kematian. Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.". Wahyu 14:13. BahwaTuhan Yesus datang di Betania setelah 4 hari kematian Lazarus. Kebanyakan orang-orang Yahudi percaya bahwa jiwa orang yang meninggal tetap tinggal dekat-dekat dengan jasadnya sampai 3 hari setelah kematian. Semasa itulah kalau-kalau masih bisa diharapkan jiwa orang mati itu kembali ke dalam jasadnya lagi. Tag khotbah ucapan syukur 40 hari kematian. Ayat Alkitab Tentang Bersyukur Kepada Tuhan. Ayat | 8 Desember 2019 8 Desember 2019 oleh Persembahan COM. 3 hari lalu. 10 Pertanyaan mengenai Yesus yang Sering Ditanyakan 4 hari lalu. Kenapa Buah Terlarang Diciptakan Tuhan 5 hari lalu . Lori Official Writer Salah satu sejarah pelayanan Yesus yang paling signifikan adalah 40 hari setelah kebangkitan-Nya dari kematian. Dia melakukan perjalanan dan berbicara ke banyak orang di daerah-daerah yang pernah dilayaniNya. Dan ribuan orang menyaksikan pemulihan di tubuh-Nya. Selama 40 hari Yesus menunjukkan kepada dunia bahwa Ia hidup kembali. Meski hal itu adalah bagian dari mujizat Ilahi, masih banyak pula orang-orang yang memperdebatkan kebenaran itu. Jika Dia sendiri sudah mengetahui hal itu akan terjadi, lalu mengapa Dia harus tinggal selama itu di bumi sebelum terangkat ke surga? 1. Membuktikan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari KEMATIAN Satu alasan mengapa Yesus masih tetap tinggal di dunia selama lebih dari satu bulan setelah kebangkitan-Nya adalah untuk mendemonstrasikan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia benar-benar hidup. Para pengikut tahu bahwa penguasa Roma telah membunuh Yesus, dan bahkan tubuh-Nya telah diturunkan dari salib dan dibaringkan di dalam kubur. Dan ketika itu terjadi, mereka dipenuhi dengan keputusasaan dan ketakutan; banyak dari mereka yang kemudian bersembunyi. Padahal mereka benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, dan saat mengetahui Yesus sudah mati mereka menjadi hilang harapan. Mereka lupa akan janji Yesus bahwa Dia akan bangkit dari kubur. Dan ketika Yesus menampakkan diri di antara mereka setelah kebangkitan itu, hidup mereka berubah. Mujizat terbesar dalam sejarah dunia baru saja terjadi Yesus Kristus bangkit! Selama 40 hari itu, Ia menampakkan diri kepada sebagian besar murid-murid-Nya untuk membuktikan bahwa Ia telah bangkit dari kematian oleh karena kuasa Allah. Lebih dari dua dekade berikutnya, Rasul Paulus menulis bahwa, “..Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa diantaranya sudah meninggal 1 Korintus 15 6”. 2. Mengingatkan murid-murid tentang misi yang akan mereka kerjakan Yesus telah mengajar murid-murid-Nya selama tiga tahun. Tetapi dimasa yang singkat itu, Yesus harus mengulang kembali pengajaran yang Dia sampaikan itu kepada mereka dan menjelaskan tentang nubuat kebangkitan yang tertulis dalam Perjanjian Lama Lukas 24 27. Dia juga mengajak mereka untuk segera menjalankan misi pekerjaan-Nya. Tetapi sebelum mereka terburu-buru melakukan hal itu, Yesus mengingatkan untuk menunggu tercurahnya kuasa Roh kudus Kisah Para Rasul 1 4. Kehadiran Roh Kudus menjadi penggenapan janji Allah bahwa setelah Yesus terangkat ke surga Dia akan menghadirkan seorang penolong. Mereka harus dipenuhi Roh kudus sebelum memulai pelayanan mereka di seluruh dunia Lukas 3 21. Yesus mengingatkan para murid-murid-Nya untuk pergi melayani, memuridkan kembali, membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus Kisah 2 38; 22 16; Efesus 4 5; Kolose 2 12, dan mengajar mereka melakukan kehendak Allah. Baca Juga Inilah 6 Pesan Penting Kenaikan Yesus Bagi Orang Percaya 3. Mengajarkan tentang pentingnya tiga unsur utama dalam pelayanan para murid Sebelum terangkat ke surga, Yesus mengajarkan para murid tentang tiga unsur penting yang harus mereka terapkan dalam pelayanannya, yaitu pentingnya komunitas dan kepemimpinan 1 Korintus 12 27, akan muncul penulis-penulis Injil yang dipenuhi Roh Kudus untuk menuliskan Perjanjian Baru sebagai pelengkap kitab Perjanjian Lama yang telah ada, serta pentingnya Perjamuan Kudus Lukas 24 1-35. 4. Menyadarkan para murid bahwa Yesus tetap setia meskipun mereka tidak setia Saat masa-masa penderitaan Yesus, banyak murid yang kemudian menyangkali Dia. Mereka semua lari dan takut. Tak seorang pun yang setia menunggui Yesus saat Dia disalibkan, kecuali kaum perempuan. Dan ketika Yesus menampakkan diri-Nya setelah kebangkitan, Dia ingin menyatakan bahwa Dia telah mengampuni mereka. Mereka merasa malu dan takut atas tindakan pengecut mereka, namun Yesus justru mengampuni dosa mereka. Di saat Yesus bertemu Simon Petrus, tidak kebetulan bahwa Yesus juga menanyakan pertanyaan yang sama kepada dia sebanyak tiga kali Yohanes 21 1-19. Yesus masih tinggal di bumi selama 40 hari untuk mengajar murid-murid-Nya dan mempersiapkan mereka untuk tugas memberitakan tentang Kristus ke seluruh dunia. Selain itu, Yesus juga melakukan banyak hal-hal lainnya selama kesempatan itu. “Masih banyak hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus dituliskan itu.” - Yohanes 21 25 Baca Juga Apa Gunanya Kenaikan Yesus Bagi Kita? Kamu diberkati dengan artikel-artikel kami? Mari dukung kami untuk terus menghasilkan konten-konten terbaik di website ini dengan menjadi mitra Buat kamu yang tergerak untuk bergabung yuk. DAFTAR DI SINI Sumber Berbagai Sumber/ Halaman 1 Naskah khutbah Jumat ini berpesan, seseorang seharusnya menjadikan informasi wafatnya orang lain sebagai nasihat nyata kematian itu suatu saat akan mendatangi kita. Hal yang lebih layak dicemaskan daripada kematian adalah bagaimana kondisi kita saat mati nanti suul khatimah atau husnul khatimah? Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul "Mengajak kepada Kebaikan tapi Diri Sendiri Tak Melakukan?". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan dekstop. Semoga bermanfaat! Redaksi Khutbah I اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ لِقَائِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ آل عمران ١٠٢ Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan senantiasa berupaya melakukan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan. Kaum Muslimin rahimakumullah, Tema khutbah kita pada siang hari ini adalah “Kematian itu Pasti, Bersiaplah!” Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Data menunjukkan bahwa beberapa minggu terakhir, angka kematian akibat Covid-19 begitu tinggi. Setiap hari kita disuguhi berita duka. Bahkan kita dapat melihat sendiri dengan mata kepala kita kerabat, teman, dan tetangga kita satu demi satu berguguran. Hadirin, sudahkah kematian demi kematian yang ada di sekitar kita menjadi nasihat bagi kita? Sudahkah takziah yang kita lakukan menjadi tausiah bagi kita semua? Maut adalah kepastian yang tidak dapat dimajukan atau pun dimundurkan barang sesaat pun. Malaikat maut tidak permisi kepada orang yang sehat. Malaikat maut juga tidak minta izin kepada seorang anak atau pun remaja. Ajal tidak menunggu kita sakit. Ajal juga tidak menanti masa tua kita. Jika telah datang waktunya, siapa pun pasti akan menemui ajalnya. Oleh karena itu, persiapan menuju kematian semestinya kita lakukan dalam setiap tarikan nafas kita. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ آل عمران١٨٥ Maknanya “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasan kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya” QS Ali Imran 185. Dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ آل عمران ١٠٢ Maknanya “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim” QS Ali Imran 102. Allah ta’ala juga berfirman وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ الحجر ٩٩ Maknanya “Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin ajal datang kepadamu” QS al Hijr 99. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Melalui ayat yang pertama, Allah memberitahu kita bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dalam ayat yang kedua, Allah memerintahkan kita wafat dalam keadaan Muslim. Dan dalam ayat yang ketiga, Allah memerintahkan kita beribadah hingga ajal menjemput. Diriwayatkan dalam Mushannaf Ibni Abi Syaibah bahwa suatu ketika malaikat Izra’il masuk ke ruangan Nabi Sulaiman alaihissalam dalam rupa seorang manusia. Sang malaikat tiba-tiba memandang lekat-lekat salah seorang yang hadir di majelis Nabi Sulaiman. Setelah malaikat Izra’il keluar ruangan, laki-laki itu bertanya kepada Nabi Sulaiman tentang orang yang memandangnya lekat-lekat. Kemudian Nabi Sulaiman memberitahunya bahwa orang itu adalah malaikat Izra’il. Laki-laki tersebut lalu meminta kepada Nabi Sulaiman agar memerintahkan angin membawanya ke negeri India. Beberapa waktu kemudian, malaikat Izra’il kembali mendatangi Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman bertanya kepadanya Kenapa engkau memandang laki-laki itu dengan lekat? Malaikat menjawab Aku heran, kenapa ia berada di ruanganmu pahahal aku diperintahkan oleh Allah mencabut ruhnya di India. Hadirin, di mana pun kita berada, jika sudah tiba ajal, malaikat maut pasti mencabut nyawa kita. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Yang semestinya ditakutkan oleh seorang Muslim bukanlah kematian. Yang seharusnya dikhawatirkan adalah mati dalam keadaan su’ul khatimah. Seseorang yang di masa mudanya ahli ibadah bukan jaminan akhir hayatnya akan husnul khatimah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegaskan إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيْمِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ Maknanya “Sesungguhnya yang menjadi penentu adalah perbuatan di akhir hayat” HR al-Bukhari. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Janganlah kita menunda-nunda taubat. Saat ini juga kita bertaubat dari semua dosa. Dosa kecil yang dilakukan terus menerus dapat mengantarkan seseorang melakukan dosa besar. Dan dosa besar yang dilakukan terus-menerus dapat menyebabkan seseorang mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzu billahi min dzalik. Diceritakan bahwa seorang ulama salaf yang bernama Imam al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah memiliki seorang murid yang sedang sakit keras. Menjelang kematian sang murid, Imam al Fudhail menjenguknya dan menuntunnya membaca dua kalimat syahadat. Si murid tidak mampu mengucapkannya. Beberapa kali dituntun, si murid tetap tidak mampu mengucapkan dua kalimat syahadat. Bahkan sang murid kemudian mengatakan Saya terbebas dari dua kalimat syahadat. Sang murid pada akhirnya mati dalam keadaan su’ul khatimah, mati kafir. Imam al Fudhail gemetar badannya dan menangis karena takut kepada Allah ta’ala. Beberapa waktu kemudian, Imam al Fudhail bermimpi melihat muridnya sedang diseret dimasukkan ke dalam neraka. Imam al Fudhail bertanya kepadanya Kenapa hal ini bisa terjadi, apa yang telah engkau lakukan? Sang murid menjawab Wahai guruku, aku dulu sering membicarakan kejelekan teman-temanku dan hasud kepada mereka hingga aku sampai ke keadaan seperti ini dan mati kafir. Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah II اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. Ustadz Nur Rohmad, Anggota Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur Baca naskah khutbah lainnya Khutbah Jumat Batal Berangkat Haji, Jangan Bersedih Hati! Khutbah Jumat Ibadah Haji, antara Kebutuhan dan Keinginan Khutbah Idul Adha Tiga Makna di Balik Ibadah Haji Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Bapak ibu serta saudara-saudaraku yang terkasih!Hidup manusia dapat kita umpamakan seperti sebuah titik dalam gerakan sebuah roda. Ada kalanya titik tersebut berada diatas atau di puncak, namun ada kalanya berada sedang berada di puncak, rasanya tenang, tidak ada gangguan, yang ada adalah kenikmatan saja. Sebaliknya bila bila titik itu sedang dalam posisi yang terendah, maka seakan-akan segala sesuatu menjadi beban yang harus kita pikul sendiri, tiada teman, tiada penghiburan apalagi harapan, seolah semua mahluk di dalam dunia ini mempersalahkan kita. Bila kita masuk dalam keadaan seperti itu, apa yang kita lakukan untuk tetap bertahan !Untuk itu marilah kita belajar dari pengalaman para rasul suatu hari mereka kesulitan dalam mencari ikan, Semalaman mereka mencari ikan, namun tak seekorpun dapat mereka tangkap, hal ini merupakan kesulitan besar bagi mereka, karena matapencaharian mereka adalah nelayan, mereka hidup dari hasil penjualan ikan yang mereka dapatkan. Melihat situasi sulit semacam ini, Yesus yang bersama mereka tidak sampai hati membiarkan mereka mendapatkan kesulitan yang melampaui batas kemampuan para murid itu, dan Yesuspun menolong mereka walaupun tidak mereka minta. Maka yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana Yesus tahu bahwa para muridNya sedang mengalami kesulitan ?Bapak ibu serta saudara-saudaraku yang terkasih!Karena Yesus selalu menyertai mereka para muridNya maka Yesus tahu persis kesulita mereka itu dan hal ini adalah konsekuensi dati kata-kataNya sendiri ’Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada Yesus, dan barang siapa percaya kepadaNya akan tetap hidup’ Yoh 1724. Karena Yesus tidak mau kehilangan para muridNya yang mengakui Dia sebagai Putra Allah, maka Yesus menyertai mereka kemanapun mereka bersama Yesus inilah yang mengangkat Petrus dan kawan-kawannya akhirnya memilih takut kepada Allah dari pada takut kepada manusia Kis 529. Takut kepada Allah inilah yang memberikan kekuatan pada murid untuk dengan leluasa memberi kesaksian, dan takut kepada Allah ini dalam segala tindakan dan perkataan mereka. Sebab Allah Maha Tahu, Allah tidak pernah meninggalkan kita barang sejenak, hal ini dibuktikan oleh Yosua dalam kesaksiannya Aku tahu bahwa Allah hadir ditengah-tengah kita Yos 2231.Sekarang marilah kita kaji perbuatan kita, bila kita juga ingin Allah selalu hadir melindungi kita, maka pertama-tama kita contoh adalah Petrus dan kawan-kawannya yang mengambil sikap lebih takut kepada Allah dari kepada manusia. Bagaimana dengan kita ? apakah kita malahan berbuat sebaliknya? Misalnya kita akan berbuat sesuatu yang tidak pantas, sering kita beranggapan … aah. Mumpung tidak ada orang yang melihat, atau biarlah kesalahan ini saya tanggung sendiri, atau lebih konyol lagi .. kan nada sakramen tobat .. temui pastor, mengaku dosa dan beres tidak ada yang melihat, Ada yaitu Allah sendiri. Dan kita tidak mungkin membujuk Allah atau mengajak berdamai dalam hal ketidak jujuran, ketidakadilan dsbnya. Bila hukuman yang diterapkan oleh manusia masih bisa di selesaikan dengan negosiasi dll maka hukuman dari Tuhan datangnya tanpa pemberitahuan resmi, bahkan via sms pun tidak ibu serta saudara-saudaraku yang terkasih!Mungkin kita semua bingung tentang renungan malam ini, apa hubungannya dengan acara ibadat penghiburan 40 hari mengenang saudara kita. Dalam renungan ini saya ingin menyampakan bahwa hidup manusia itu merupakan satu garis sejarah yang tidak terputuskan. Diawali dengan kelahiran sampai dengan pada saat kematian, suatu hal yang pasti, yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kita mengisi sejarah hidup kita itu, karena kita mengaku bahwa diri kita ini adalah murid2 Yesus, masihkah kita meyakini hal itu, masihkah kita yakin bahwa Allah selalu hadir dalam segala situasi manusia dan tetap setia. Saat ini saudara kita ini telah bebas tugas, bebas tugas dari mengukir sejarahnya didunia ini, Menurut Pastor Sandiwan Broto, saudara kita ini hanya pindah tempat ke alam yang abadi, dimana hidupnya tidak berakhir dalam kehidupan yang kekal. Badannya selama dialam kita ini dia tinggalkan karena dia telah mendapatkan badan baru yang lebih mulia, sesuai kata Rasul Paulus ”Jika kemah kediaman kita dibumi ini dibongkar, maka kita akan memperoleh bangunan dari Allah yang bukan buatan tangan manusia dan itulah ajaran iman yang kita semua telah terima. Selaras dengan ajaran iman kita itu maka kita yakin bahwa Saudara kita ini masih hidup dan kehadirannya tidak pernah dipatahkan namun selalu dengan kehidupan kita kelak, hal itu sangat ditentukan oleh perjuangan atau usaha kita saat ini. Bila kita yakin bahwa Allah selalu hadir dalam segala situasi manusia dan tetap setia. Serta belajar dari pengalaman para rasul Yesus yang memilih takut kepada Allah dari pada takut kepada manusia karena Takut kepada Allah inilah yang akan memberikan kekuatan pada kita untuk dengan leluasa memberi kesaksian dalam segala tindakan dan perkataan kita, maka Yesus akan menjadi penjamin kebahagiaan kita kelak di alam keabadian., Percaya,Demikian Kitab Suci telah membuka tabir rahasia yang meliputi kematian, maka marilah kita menyatakan iman kepercayaan kita dengan mengucapkan syahadat singkat. Lihat Pendidikan Selengkapnya Ibarat pohon yang tidak pernah layu pada musim kering, demikianlah kehidupan orang percaya di tengah tantangan dan pergumulan. Bukan saja sekedar tetap hidup, tetap eksis tapi juga terus berbuah. Untuk memiliki kualitas dan kehidupan seperti itu, Yeremia menyampaikan bagi Israel juga kita agar mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan pada Tuhan. Berbicara tentang harapan, setiap orang pasti memiliki harapan. Harapan untuk menemukan jodoh, harapan agar sembuh kala sakit, harapan untuk memperoleh pekerjaan, pokoknya banyak harapan yang kita inginkan. Harapanlah yang membuat kita dapat bertahan dalam situasi yang paling buruk sekalipun. Seseorang yang terombang-ambing dan hanyut dilaut, tanpa makan ia masih bisa bertahan beberapa hari. Tanpa minum dapat bertahan beberapa jam. Tetapi tanpa harapan maka semua usaha akan sia-sia. Harapan memberi energi positif bagi hati, pikiran dan jiwa. Tanpa harapan kita hanya melihat kesulitan, masalah dan persoalan melulu. Tapi dengan harapan kita dapat melihat peluang. Tanpa harapan kita hanya akan meratapi, marah, bersungut bahkan mengeluh dengan persoalan tapi dengan harapan kita mampu menemukan makna dan pelajaran dibalik persoalan. Hari ini kita beribadah, berjumpa dengan Tuhan dan bersyukur karena kita memiliki harapan di dalam Tuhan. Harapan bahwa kelak kita akan berjumpa dengan orang yang kita kasihi yang telah pergi mendahului kita. Harapan yang membuat kita mampu bersyukur sehingga peristiwa kematian yang mengakibatkan dukacita dan kesedihan, tidak membuat kita kecewa dan meninggalkan Tuhan tapi justru membuat kita makin setia dan mengasihi Tuhan. Harapan di dalam Tuhan memampukan kita untuk mengalahkan segala kekhawatiran dan kesedihan sepeninggal orang yang kita kasihi. Saudaraku, ayat bacaan kita adalah sebuah nubuat harapan bagi Israel. Yeremia menubuatkan betapa pentingnya menaruh harapan pada Tuhan dan mengandalkan kuasa Tuhan. Masa itu, Kerajaan Yehuda Israel Selatan sedang menghadapi ancaman dari Mesir dan Babel. Di tengah ancaman itu jika Israel mengandalkan manusia atau kekuatan sekutu dengan bangsa lain maka mereka akan hancur. Apalagi jika Israel meninggalkan Allah dan berpaling dari Allah. Dalam keadaan menghadapi tekanan dan bahaya. Israel memang rapuh tapi di dalam Tuhan mereka akan kuat. Pada akhirnya, dalam sejarah Israel ternyata mereka memilih bersekutu dengan Asyur. Mereka mencari pertolongan di luar Tuhan. Mereka gagal dalam hal taat dan setia. Yang terjadi adalah mereka ditaklukan oleh Babel. Belajar dari kehidupan Israel dan nubuat Yeremia, maka keluarga besar dan persekutuan sekalian diingatkan Pertama, Tuhan memberkati orang yang mengandalkan Tuhan. Mengandalkan Tuhan berarti melibatkan Tuhan dalam setiap proses kehidupan, percaya pada cara dan waktu Allah untuk menyatakan pertolonganNya. Jadi tidak melakukan sesuatu menurut kehendak sendiri. Tidak menempuh cara – cara yang bertentangan dengan kehendak Tuhan Kedua, Tuhan memberkati orang yang berharap padaNya. Berharap berarti tetap optimis, bagaimanapun juga situasi kehidupan yang terjadi. Ketiga, bagi orang yang mengandalkan Tuhan dan berharap kepada Tuhan maka hidupnya penuh berkat yang tak berkesudahan. Tuhan tidak hanya memberi berkat tapi juga menjadikan kita sebagai saluran berkat. Ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran air bukan saja terus berbuah bagi dirinya sendiri tapi buah itu dapat dinikmati oleh orang lain. Marilah bersyukur dengan mengandalkan Tuhan dan menaruh pengharapan hanya pada Tuhan. Hidup bersyukur adalah hidup berkelimpahan berkat, karena berkat Tuhan tidak hanya kita ukur dari apa yang kita miliki tapi juga dari sebongkah batu yang merintangi jalan-jalan kita. Bagi orang yang selalu bersyukur, setiap jalan adalah jalan Tuhan. Entah itu terjal berbatu, jurang curam, atau tebing mendaki, bahkan jalan yang lurus sekali pun. Jalanilah hidup dengan iman dan bersyukurlah senantiasa. Amin. Tuhan memberkati. Saya memulai suatu tradisi membaca bagian tertentu dari The Star of Redemption setiap tahun pada perayaan Yom Kippur, hari Pendamaian. The Star of Redemption, yang ditulis pada kartu-kartu pos di wilayah garis depan Balkan dalam Perang Dunia I, adalah karya besar dari filsuf Yahudi Jerman abad ke-20 Franz Rosenzweig, yang memaparkan tentang cara memahami Yudaisme dan kekristenan dengan sangat komprehensif dan saling melengkapi. Pada tahun saya menikah, saya membaca refleksi Rosenzweig tentang arti Yom Kippur—hanya dua minggu sebelum pernikahan saya—dan saya dikejutkan dengan cara yang benar-benar baru. Saat saya memasuki jam-jam sore yang berat dari puasa Yom Kippur, saya sangat tersentuh dengan diskusi Rosenzweig tentang jubah luar selutut berwarna putih, yang disebut kittel kih’-tuhl, yang secara tradisional dipakai oleh pria dan di beberapa kalangan Yahudi, juga dipakai oleh wanita pada hari Yom Kippur. Sebagaimana segala sesuatu dalam Yudaisme, signifikansi dari tindakan ini memiliki makna yang berlapis. Kittel adalah jubah kedukaan tradisional Yahudi; dengan memakainya di hari Yom Kippur melambangkan kesatuan rasa bersalah orang-orang Yahudi di hadapan Tuhan, yang menjadi fokus utama dari Yom Kippur. Tuhan tidak tahan ketidakkudusan dan ketidakmurnian, dan pada hari Yom Kippur orang-orang Yahudi harus menatap wajah dosa dan kekurangan mereka sendiri. “Maafkanlah kami, ampunilah kami, tebuslah kami,” demikian isi liturgi Yom Kippur diucapkan dengan nada memohon berulang kali. Hari Pendamaian/Penebusan adalah hari penghakiman, di mana setiap orang Yahudi secara individu dan umat Yahudi secara kolektif harus memperhitungkan hutang dosa mereka di hadapan Tuhan. Meski demikian, mengenakan kittel juga menunjukkan keajaiban pengampunan dari Tuhan. Ini adalah tema utama lainnya dari Yom Kippur. Mengenakan kittel berarti secara visual mewujudkan pemikiran bahwa “sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju” Yes. 118. Karena itu, bagi Rosenzweig, Yom Kippur memiliki arti yang sangat mendalam sebagai hari kehidupan dan kematian. Sebagai ganti kematian akibat dosa, Tuhan memberikan pengampunan yang melimpah dan anugerah hidup kekal kepada umat-Nya . Yang satu tidak bisa tanpa yang lain, dan masing-masing memberi makna satu sama lain. Setelah dengan tajam menjelaskan pentingnya mengenakan kittel pada hari Yom Kippur, Rosenzweig merujuk pada Kidung Agung 86, di mana kita membaca bahwa “cinta kuat seperti maut.” Rosenzweig melanjutkan “Dan inilah sebabnya mengapa setiap orang sekali seumur hidup mengenakan pakaian penguburan yang lengkap di bawah tenda pernikahan, setelah sang mempelai pria menerimanya pada hari pernikahan dari tangan mempelai wanita.” Inilah yang menyebabkan napas saya tercekat di tenggorokan saat itu. Sebelumnya saya telah membacanya berkali-kali, tetapi tidak pernah dengan gravitasi makna yang sama. Kematian dan kehidupan baru, dosa dan pengampunan, pertobatan dan pengampunan—inilah tema-tema utama seputar Yom Kippur, yang juga merupakan jalan kehidupan pernikahan sehari-hari, sebuah kenyataan yang akan saya alami secara mendalam di tahun-tahun mendatang. Secara khusus, ada satu kesempatan lagi untuk memakai kittel dalam kalender Yahudi—yaitu selama ritual tahunan Seder Paskah Yahudi, terutama oleh orang yang memimpin Seder. Pada hari khusus saat Yom Kippur tersebut, saya merenungkan tidak hanya hubungan antara Yom Kippur dan hari pernikahan seseorang, tetapi juga antara Yom Kippur dan Paskah Yahudi Passover. Banyak dari kekayaan keterkaitan teologis ini telah hilang, ketika Yudaisme dan kekristenan menjauhkan diri satu sama lain, merobek benang yang pernah terjalin menjadi ritme yang bermakna sangat mendalam dari tahun liturgikal. Akan tetapi pada tahun ini, Paskah Yahudi dan Paskah Kristen jatuh pada minggu yang sama. Ini bagaikan sebuah pengingat bagi orang Kristen tentang akar keyahudian dari keimanan kita. Yom Kippur ditetapkan dalam kitab Taurat Im. 16, 2326–32; Bil. 297-11 dan jatuh pada hari kesepuluh bulan ketujuh dalam kalender Ibrani, bulan Tishrei. Tishrei didahului oleh Elul, bulan yang berfokus pada tema pertobatan. Menurut tradisi Yahudi, periode 40 hari pertobatan dimulai di Elul dan berlanjut ke Tishrei, sesuai dengan 40 hari Musa bersyafaat bagi orang-orang Israel setelah kejatuhan mereka dalam dosa penyembahan anak lembu emas. Dalam Keluaran 32, ketika Musa menerima dua loh batu dari Tuhan di puncak Gunung Sinai, orang-orang menjadi cemas dan tidak sabar lalu membuat berhala untuk disembah. Ini merupakan suatu peristiwa yang dikenal sebagai salah satu penghinaan terbesar Israel di hadapan Tuhan. Setelah turun ke perkemahan dan melihat orang-orang menari di sekitar anak lembu emas, Musa melempar dua loh batu itu, menghancurkannya di kaki gunung. Inilah titik terendah dalam sejarah Israel, ketika kedalaman dosa dan kesalahan mereka di hadapan Allah tampaknya tidak dapat diperbaiki. Dengan kasih karunia yang sebenarnya tidak layak diterima oleh umat Tuhan, Allah memperbarui kovenan dengan umat-Nya sementara Musa membuat satu set loh batu yang baru. Semua ini menyatakan bahwa Dia adalah “TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa” Kel. 346-7. Setelah tinggal di gunung selama 40 hari 40 malam, turunlah Musa kembali ke perkemahan, dengan muka yang bercahaya. Menurut para rabi, peristiwa inilah yang menjadi hari lahirnya Yom Kippur, hari yang melambangkan puncak dosa dan kedurhakaan umat Allah dan begitu dalamnya kasih Tuhan yang tak pernah gagal serta pengampunan-Nya bagi mereka yang tidak layak. Kisah agung inilah yang dirayakan orang-orang Yahudi setiap tahun, dengan pakaian putih, yang melambangkan betapa mereka selalu membutuhkan belas kasihan dan anugerah ilahi. Kisah Paskah Yahudi Ibr. Pesach; Ingg. Passover mengisi narasi kitab Keluaran tepat sebelum tibanya umat Allah di gunung Sinai. Sebagai bagian dari penyelamatan ilahi terhadap umat Israel dari belenggu perbudakan Firaun, Tuhan mendatangkan sepuluh tulah atas orang Mesir. Sebelum tulah kesepuluh kematian anak sulung dimulai, Tuhan menyuruh Musa untuk memerintahkan setiap keluarga Israel untuk menyembelih seekor anak domba dan menggunakan darahnya untuk menandai tiang pintu dan ambang pintu rumah mereka. Roh pemusnah, yang bertugas mengambil nyawa setiap anak sulung, melihat darah di pintu masuk rumah-rumah orang Israel dan melewatkan mereka passes over, menghindarkan anak-anak sulung Israel dari kematian. Yang diperlukan bukanlah sekadar memunculkan kembali kaitan antara Paskah Yahudi Passover dan Paskah Kristen Easter. Berdasarkan petunjuk Tuhan, Musa menetapkan bahwa Israel harus merayakan hari Paskah Yahudi setiap tahun, dan sampai hari ini, orang-orang Yahudi dengan setia berkumpul untuk perjamuan makan suci pada hari ke-14 bulan pertama, bulan Nisan Kel. 12. Pada perjamuan makan itu, meja akan dihiasi dengan elemen-elemen dan makanan khusus, yang semuanya berperan untuk mengingatkan—secara harfiah, mencicipi—pengalaman malam yang penting itu dan persinggahan berikutnya sebelum melewati ganasnya gurun Sinai. Demikianlah umat Israel seterusnya mengenang kembali akan daging dan darah anak domba yang menandai—dan menyelamatkan—semua anak Abraham, Ishak, dan Yakub pada malam tergelap dalam catatan sejarah Mesir tersebut. Selama ritual Seder Paskah tahunan, orang-orang Yahudi menghidupi dan menghadapi sekali lagi kesusahan dalam perbudakan, air mata keputusasaan, dan bahkan tangisan orang Mesir. Akan tetapi orang-orang Yahudi juga memperingati kemenangan atas pembebasan dari perbudakan, kegembiraan atas awal yang baru, misteri kuasa dan kasih Tuhan, dan pengharapan bahwa suatu hari nanti mereka akan membangun rumah yang layak di Tanah Perjanjian. Seperti yang dijelaskan keempat Injil, Paskah Yahudi berfungsi sebagai latar belakang masuknya Yesus ke Yerusalem, perjamuan terakhir-Nya dengan para murid-Nya, dan kematian serta kebangkitan-Nya. Konstantinus di Konsili Nicea memutuskan untuk memisahkan Paskah Yahudi dari Paskah Kristen. Ini merupakan sebuah keputusan yang menggerakkan proses panjang penghapusan akar budaya Yahudi dari Pekan Suci. Untuk menekankan dan menemukan kembali kekayaan hubungan yang mendasar ini, yang diperlukan bukanlah sekadar memunculkan kembali kaitan antara Paskah Yahudi dan Paskah Kristen, melainkan juga perlu memasukkan Yom Kippur ke dalam pemahaman kita tentang Pekan Suci. Dalam pemikiran Rosenzweig, serta dalam tradisi Yahudi pada umumnya, sebuah tallit—selendang doa Yahudi yang ikonik—adalah simbol dari sebuah kittel. Secara tradisional, tallit juga berwarna putih, dan umumnya hanya dipakai di siang hari, terkecuali pada malam Yom Kippur, selendang ini dikenakan setelah matahari terbenam. Bahkan, sudah menjadi tradisi untuk memakainya sepanjang hari selama Yom Kippur. Banyak pria Yahudi tidak memiliki atau memakai tallit sampai setelah mereka menikah, dan sudah merupakan tradisi bagi pengantin wanita untuk memberikan tallit daripada kittel kepada pengantin pria pada hari pernikahan mereka. Tunangan saya, Yonah, memegang tradisi ini. Dan sebelum kembali ke Amerika untuk pernikahan kami, kami pergi ke mal Ramot di luar Yerusalem dan memilih tallit yang indah untuk saya berikan kepadanya sebagai bagian dari upacara pernikahan kami. “Oleh karena itu, kita seharusnya tidak memiliki kesamaan dengan orang-orang Yahudi, karena Juruselamat telah menunjukkan kepada kita cara yang lain,” demikianlah Konstantinus menegaskan di Konsili Nicea. “Dalam perayaan yang paling suci dari semua festival, sungguh sangatlah tidak pantas untuk mengikuti perhitungan orang-orang Yahudi, yang telah mengotori tangan mereka dengan kejahatan yang paling menakutkan, dan yang pikirannya telah dibutakan.” Momen dalam kehidupan gereja yang demikian dikenal sebagai kontroversi Quartodeciman, karena masalah yang dihadapi adalah perayaan Paskah orang Yahudi pada hari ke-14 quarta decima dalam bahasa Latin bulan Nisan. Kaum Quartodeciman adalah mereka yang menyukai perhitungan Paskah sesuai dengan perayaan Paskah komunitas Yahudi. Dahulu hal ini sangat dipegang teguh, karena pada dasarnya ini mengikatkan kalender Kristen ke kalender Yahudi. Namun keterikatan itu menjadi tidak dapat ditoleransi oleh gereja, karena itu gereja berusaha melepaskan diri dari Yudaisme, dan Konsili Nicea memperkuat pemisahan ini. Yang hilang dalam keputusan ini adalah hubungan intensional yang dibuat dengan sangat jelas di dalam Injil. Makna dan signifikansi Pekan Suci hanya dapat dipahami sepenuhnya jika kita melihat sejarah Israel seraya kita menjalaninya. Kematian dan kebangkitan Mesias dipersiapkan polanya setelah umat Israel keluar dari Mesir, yang menjadi momen terbentuknya orang-orang Yahudi. Pada momen penting dari pendirian gereja ini, dengan pencangkokannya ke dalam kovenan abadi Israel dengan Allah, Yesus menjadi Anak Domba Paskah yang oleh darah-Nya umat Allah diampuni. Seperti yang kita lihat di bidang-bidang lain, teologi Kristen sering kali berusaha menguraikan dengan rapi unsur-unsur yang oleh teologi Yahudi dibiarkan nyaman dalam ketegangan. Kontras ini juga disorot dalam perbedaan yang mungkin terjadi antara Paskah Yahudi dan Paskah Kristen. Bagi gereja, Jumat Agung diperuntukkan bagi kematian, sedangkan hari Minggu ditetapkan sebagai perayaan kebangkitan hidup. Pengaturan ibadah temporal ini dapat berakhir dengan kesimpulan bercabang dua antara kehidupan dan kematian, sehingga memunculkan pernyataan yang berani dan dualistik bahwa, pada hari Minggu, kematian tidak lagi menjadi kekuatan yang perlu kita perhitungkan sama sekali. Kita diberitahu untuk berpegang teguh pada kehidupan dan melupakan kuasa maut, karena Yesus meninggalkan kematian sekali untuk selamanya di dalam kubur-Nya yang kosong. Dan sengat maut pun dapat dipindahkan kepada orang-orang di luar tembok gereja. Pesan ini sangat membingungkan dan pada akhirnya, tidak manusiawi. Seperti yang telah dialami oleh sebagian besar kita, kenyataan hidup jauh berbeda dari pernyataan sederhana bahwa kematian/maut telah ditaklukkan oleh kebangkitan. Maut, dalam segala bentuknya yang berbahaya, masih menyelimuti kehidupan kita sehari-hari. Bahkan setelah kebangkitan Yesus yang mulia, kita terus bergumul dengan dimensi kemanusiaan kita yang menggelisahkan trauma yang kita hidupkan kembali, kehilangan yang kita tanggung, kekecewaan yang kita kumpulkan, kecemasan yang melumpuhkan kita. Dan sayangnya, gereja bisa salah mengirim pesan terselubung bahwa apabila kita terganggu oleh pergumulan yang nyata ini, entah bagaimana hal itu menandakan bahwa kita kurang beriman atau salah memahami inti pesan dari kekristenan. Pada sisi lain, Paskah Yahudi merangkul jalinan yang rumit antara kehidupan dan kematian; bahkan, Paskah Yahudi menggambarkan kehidupan dan kematian sebagai kekuatan yang saling terjalin dan konvergen. Sementara kehidupan pada akhirnya menang dalam narasi Israel, namun tradisi Yahudi mengingatkan kita bahwa tidak mungkin untuk memisahkan kehidupan yang kita alami dari ingatan kita akan kematian secara individu atau kolektif. Pada meja Paskah Yahudi, kami mengingat kematian seekor anak domba yang darahnya menyelamatkan hidup kami. Kami bersyukur atas karunia kemerdekaan bahkan seperti rempah-rempah yang pahit mengingatkan kami pada pahitnya perbudakan. Kami bersukacita meninggalkan Mesir walaupun kami juga ingat bahwa Tanah Perjanjian masih belum menjadi rumah kami. Dan, luar biasanya, kami bahkan mengurangi kegembiraan kami dan mengingat penderitaan orang Mesir dengan menghapus tetesan anggur, minuman yang melambangkan kegembiraan, dari gelas kami. Meski demikian, konfrontasi Yudaisme yang paling berani terhadap kematian, terjadi pada hari lain yang dinantikan dalam kisah Paskah Yahudi Yom Kippur. Pada peringatan Yom Kippur, orang-orang Yahudi berdiri di hadapan Tuhan dalam pergolakan akan kematian, mengenakan jubah kedukaan namun diberkahi dengan keberanian untuk percaya bahwa Tuhan hadir dan dapat dijangkau bahkan dari dalam kubur sekalipun. Seperti halnya Paskah Yahudi, tidak ada kehidupan yang terpisah dari kematian pada hari Yom Kippur. Bahkan kehidupan, ternyata, tidak memberi kita kemampuan untuk melupakan kematian. Keduanya berdiri bersama dalam paradoks yang mustahil, dan kita berjalan keluar dari realitas keduanya seraya kita menantikan penebusan yang final. Paskah Yahudi dan Yom Kippur mengingatkan bahwa kita tidak dapat memisahkan atau mengatur kehidupan dan kematian dengan rapi atau secara kronologis. Paskah Yahudi dan Yom Kippur mengingatkan bahwa kita tidak dapat memisahkan atau mengatur kehidupan dan kematian dengan rapi atau secara kronologis. Sayangnya, untuk saat ini, kita harus duduk di dalam ketegangan antara keduanya—dan inilah tepatnya tempat kita menemukan kepenuhan kasih Allah di dalam Kristus, Anak Domba Paskah kita yang darah-Nya menebus segala dosa kita. Ironisnya, interpretasi tersembunyi yang menerangi ibadah Kristen pada Paskah dapat menghapus konteks yang memampukan kita untuk sepenuhnya memahami makna kematian dan kebangkitan Yesus. Dengan memakai Yudaisme sebagai pembungkusnya, tradisi Kristen terlalu sering mengaburkan kesatuan dan koherensi narasi alkitabiah, di mana kovenan Allah dengan Israel merupakan konteks yang diperlukan untuk memahami karya Yesus dan terbentuknya gereja. Dari sudut ini, bukit Kalvari mulai terlihat lebih mirip dengan gunung Sinai. Tabir yang robek mengingatkan kita pada loh-loh yang pecah di gunung Sinai. Kematian Yesus mengingatkan akan pengorbanan pada hari Yom Kippur. Misteri Sabtu Suci mencerminkan syafaat Musa di atas Sinai. Dan kebangkitan Yesus mewujud-nyata menjadi sebuah kovenan yang diperbarui sekali lagi—yang merupakan sebuah pernyataan tentang keabadian kasih Allah yang tak berkesudahan, pertama kepada orang Yahudi dan kemudian kepada orang bukan Yahudi Rm. 116. Dengan pendekatan dari perspektif ini, maka pernyataan yang penuh sukacita bahwa “Kristus telah bangkit!” memberikan makna baru yang sangat mendalam bagi kita. Bagaimanapun juga, Juruselamat dunia adalah Mesias Israel yang telah lama ditunggu-tunggu. Esai ini diadaptasi dari Finding Messiah karya Jennifer M. Rosner. Hak Cipta © 2022 oleh Jennifer Rosner. Diterbitkan oleh InterVarsity Press, Downers Grove, IL. Michael Stone juga berkontribusi pada esai ini. Diterjemahkan oleh David Alexander Aden -[ This article is also available in English, español, and Português. See all of our Indonesian Bahasa Indonesia coverage. ]

khotbah 40 hari setelah kematian